Home / Uncategorized

Kamis, 22 Mei 2025 - 17:13 WIB

Dorong Revitalisasi Lahan Bekas Tambang Dukung Transisi Energi di Sumsel

Lahat, detikserelo.com – Institute for Essential Service Reform (IESR) bersama Bappeda Kabupaten Lahat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Revitalisasi Lahan Pasca Tambang: Sinergi Pemerintah, Industri, dan Masyarakat dalam Mendorong Transisi Energi dan Transformasi Ekonomi”.

Sumatera Selatan yang dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Tanah Air menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan lahan bekas tambang. Produksi batu bara di provinsi ini mencapai 105,8 juta ton pada 2022. Namun, dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan masif, seperti kerusakan lahan dan pencemaran air, makin mengkhawatirkan.

“Transisi energi tentu berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lahat. DBH dari gas bumi, mineral, dan batu bara cukup besar. Oleh sebab itu, perlu langkah antisipasi agar perubahan ini tidak menggoyahkan perekonomian daerah,” ujar Asisten II Setda Kabupaten Lahat, M. Ichsan, Jumat (23/5/2025).

Baca Juga  Tikam Tiga Anggota Polisi, Bandar Narkoba di Lahat Divonis Hukuman Mati

Data Kementerian ESDM menunjukkan, dari lebih satu juta hektar lahan tambang di Sumsel, baru 5.200 hektar lahan pasca tambang yang berhasil direklamasi. Sisanya sekitar 3.800 hektar belum tersentuh rehabilitasi.

FGD tersebut membahas berbagai solusi, mulai dari pengembangan pertanian, ekowisata, hingga industri hijau sebagai alternatif pemanfaatan lahan bekas tambang. Upaya ini diharapkan bisa mendiversifikasi ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Dalam diskusi yang berlangsung Kamis (22/5/2025) di hotel Santika, dibahas diantaranya menekankan pentingnya harmonisasi regulasi untuk percepatan rehabilitasi dan transisi energi. Lalu mengingatkan perlunya kontribusi sektor pertambangan dalam pemulihan lingkungan dan investasi hijau.

Baca Juga  Ketua DPRD Sumsel Pimpin Rapat Paripurna ke - IX Dalam Agenda Pidato Sambutan Gubernur Sumsel Masa Jabatan 2025 - 2030

Termasuk berbagai model pemberdayaan masyarakat lokal agar dapat beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang terjadi akibat berkurangnya aktivitas tambang.
IESR berharap, FGD ini menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret yang dapat diimplementasikan, tidak hanya di Lahat, tapi juga di seluruh Sumsel.

“Berdasarkan analisis yang dilaksanakan IESR dan Universitas Sriwijaya, daerah penghasil batu bara perlu mempersiapkan langkah antisipasi ketika terjadi penurunan permintaan batu bara. Revitalisasi lahan pascatambang yang berorientasi pada pengembangan energi terbarukan atau pengembangan komoditas berbasis potensi lokal dapat menjadi langkah strategis yang perlu dukungan beragam stakeholder,” tambah Rizqi Prasetyo, Koordinator Subnasional, Program Akses Energi Berkelanjutan IESR.

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Empat Pelajar Lahat Bersinar di FTBI Sumsel, Fadhel Amankan Tiket Nasional

Uncategorized

CV Lahat Kaki Langit Bantah Kritik Target Parkir, Ivon Agustini Klaim Setoran PAD Meningkat

Uncategorized

Warga Dusun IV Selpah Keluhkan Listrik Mandiri Tertahan, PLN: Sabar, Usai BPBL Mandiri Akan Menyusul

Uncategorized

Legalitas RSIA Adellia Graha Medika Disorot, Praktisi Hukum Minta Audit Perizinan dan Kejelasan IPAL

Uncategorized

Tanpa Dokumen Persetujuan Lingkungan, DPMTSP Lahat Terbitkan Izin Operasional RSIA Adellia Graha Medika

Uncategorized

‎Terobosan Gemilang Kepala Desa Tunggul Bute: Wujudkan Akses Jalan dan Listrik untuk Warga Dusun Selpah

Uncategorized

Warga Dusun Selpah Antusias Ikuti Sosialisasi PLN ULP Lahat, Kades Tunggul Bute Berikan Apresiasi

Uncategorized

Kadispupr Lahat Tinjau Langsung Normalisasi Irigasi 148 Hektar Sawah, di 3 Desa Terdampak Kemarau