Home / Uncategorized

Selasa, 26 November 2024 - 09:43 WIB

Seganti Setungguan: Dari Falsafah Hidup ke Prinsip Berdemokrasi di Pilkada Lahat

Lahat, detikserelo.com – Kabupaten Lahat, dengan segala keragaman budayanya, memiliki sebuah falsafah hidup yang luhur, Seganti Setungguan. Falsafah ini mengandung nilai-nilai persatuan, gotong royong, setia kawan, setia kata, teguh berpendirian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini bukan sekadar kebanggaan masyarakat Lahat, tetapi juga warisan budaya yang dapat menjadi panduan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Saat Pilkada Kabupaten Lahat pada 27 November 2024 semakin dekat, falsafah ini diharapkan mampu menjadi prinsip dasar yang diterapkan oleh para calon pemimpin, tim sukses, dan seluruh masyarakat.

Falsafah Seganti Setungguan lahir dari semangat persatuan masyarakat Lahat. Kata “seganti” dan “setungguan” mencerminkan konsep kerja sama yang kokoh dan solidaritas yang mendalam. Dalam sejarahnya, masyarakat Lahat telah menjadikan nilai ini sebagai pedoman dalam menyelesaikan persoalan dan membangun kehidupan yang harmonis. Gotong royong dalam pembangunan desa, saling mendukung dalam menghadapi bencana, serta menjaga komitmen dalam hubungan sosial adalah bukti nyata bagaimana Seganti Setungguan menjadi jiwa kehidupan masyarakat. Di tengah keberagaman etnis, agama, dan pandangan politik, falsafah ini menjadi pengikat yang menjaga harmoni. Ketika masyarakat berselisih pendapat, nilai setia kawan dan setia kata dalam Seganti Setungguan mengajarkan pentingnya dialog dan mencari solusi bersama. Dengan falsafah ini, Lahat mampu menjaga stabilitas sosial dalam keberagamannya.

Pilkada, sebagai pesta demokrasi, sering kali membawa dinamika yang kompleks. Di satu sisi, pilkada adalah kesempatan untuk memilih pemimpin yang terbaik. Namun, di sisi lain, kompetisi politik sering kali memunculkan ketegangan, bahkan konflik horizontal di masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Lahat, tantangan ini semakin relevan mengingat keberagaman yang menjadi kekayaan sekaligus potensi sumber perpecahan jika tidak dikelola dengan baik. Beberapa tantangan utama yang sering muncul dalam pilkada adalah polarisasi masyarakat berdasarkan pilihan politik, penyebaran berita hoaks yang memecah belah, dan potensi penggunaan sentimen kedaerahan. Fenomena ini tidak hanya mencederai proses demokrasi, tetapi juga merusak harmoni sosial yang telah lama terjaga.

Baca Juga  100 Tahun Dedikasi Kongregasi Suster Charitas, Gubernur Sumsel Berikan Apresiasi

Di sinilah peran falsafah Seganti Setungguan menjadi sangat penting. Nilai persatuan dan gotong royong dapat menjadi dasar untuk mengatasi tantangan tersebut. Jika diterapkan dengan baik, falsafah ini mampu mengubah dinamika pilkada dari ajang kompetisi menjadi momen kolaborasi dalam membangun masa depan Lahat yang lebih baik. Pilkada tidak hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga merupakan cerminan nilai-nilai demokrasi yang harus dijunjung tinggi. Dalam konteks ini, Seganti Setungguan dapat menjadi panduan moral bagi semua pihak yang terlibat.

Setiap calon pemimpin harus memahami bahwa Seganti Setungguan menuntut mereka untuk menjunjung tinggi nilai persatuan dan tanggung jawab. Mereka harus mampu menawarkan visi dan program yang tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama. Kampanye yang mengedepankan politik bersih, bebas dari ujaran kebencian dan hoaks, adalah wujud konkret dari penerapan nilai ini. Selain itu, janji-janji politik yang disampaikan harus didasarkan pada prinsip setia kata. Artinya, apa yang dijanjikan selama kampanye harus menjadi komitmen nyata yang diwujudkan setelah terpilih. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan memperkuat legitimasi kepemimpinan mereka.

Tim sukses dan pendukung calon juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga suasana pilkada tetap kondusif. Dalam falsafah Seganti Setungguan, persatuan lebih utama daripada kemenangan sesaat. Oleh karena itu, mereka harus menghindari provokasi yang memecah belah masyarakat dan fokus pada kampanye positif. Menggunakan pendekatan gotong royong dalam kampanye, seperti kegiatan sosial yang melibatkan semua pihak, dapat menjadi cara yang efektif untuk menerapkan nilai ini. Dengan demikian, pilkada tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momen mempererat solidaritas masyarakat.

Sebagai elemen utama dalam demokrasi, masyarakat pemilih memegang peran strategis dalam menentukan arah pembangunan Kabupaten Lahat. Nilai Seganti Setungguan mengajarkan pentingnya tanggung jawab dalam menggunakan hak pilih. Pemilih harus menjadikan hati nurani dan kepentingan bersama sebagai dasar dalam menentukan pilihan, bukan karena tekanan, iming-iming, atau sentimen tertentu. Selain itu, masyarakat juga harus menjaga suasana pilkada tetap damai. Menjauhi konflik, menghormati perbedaan pilihan, dan mengedepankan dialog adalah wujud nyata penerapan nilai ini. Dengan demikian, pilkada dapat menjadi pesta demokrasi yang benar-benar dirayakan oleh semua pihak.

Baca Juga  Menjaga Nalar Demokrasi dalam Muscab PKB Lahat

Pilkada 2024 bukan hanya tentang memilih pemimpin untuk lima tahun ke depan, tetapi juga tentang mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Jika Seganti Setungguan berhasil diterapkan dalam proses pilkada, generasi muda akan belajar bahwa demokrasi bukan soal menang atau kalah, tetapi tentang menjaga persatuan dan bekerja sama untuk kemajuan bersama. Generasi mendatang juga akan memahami bahwa falsafah ini tidak hanya relevan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam ranah politik. Dengan demikian, mereka akan memiliki kesadaran untuk terus melestarikan nilai-nilai ini dalam kehidupan mereka.

Falsafah Seganti Setungguan adalah warisan budaya yang memiliki relevansi besar dalam kehidupan demokrasi, termasuk dalam Pilkada Kabupaten Lahat 2024. Nilai-nilai persatuan, gotong royong, setia kawan, setia kata, teguh berpendirian, dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya harus menjadi panduan bagi para calon pemimpin, tim sukses, dan masyarakat pemilih. Dengan menjadikan Seganti Setungguan sebagai prinsip berdemokrasi, Kabupaten Lahat tidak hanya akan menjalani pilkada yang damai dan bermartabat, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, falsafah ini akan menjadi bukti bahwa Lahat mampu menjaga harmoni sosial dan meraih kemajuan tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitasnya.

(Amaludin-Dosen Universitas Serelo Lahat)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Jukir Liar Tanpa Identitas Resahkan Warga Lahat

Uncategorized

SD Negeri 3 Lahat Buka SPMB Tahun ajaran 2026-2027

Uncategorized

Pengurus PWI Kabupaten Lahat Periode 2026-2029 Resmi Dilantik

Uncategorized

Perkuat Solidaritas Internal, Kadispora Lahat Hasperi Susanto Tancap Gas Benahi Organisasi

Uncategorized

Hampir 24 Jam Listrik Padam dari Kota Hingga Pelosok Desa, Kantor PLN Lahat Digeruduk Masa

Uncategorized

Tak Ada Pelanggaran, Pemberhentian Sekdes Lubuk Layang Ilir Disebut Sudah Sesuai Prosedur

Uncategorized

Menjaga Nalar Demokrasi dalam Muscab PKB Lahat

Uncategorized

Hj. Yunani Tetap Tegak Lurus pada Keputusan Partai, Tunjukkan Sikap Dewasa dalam Dinamika Politik PKB Lahat