Lahat, detikserelo.com – Inilah salah satu potret miris dunia pendidikan di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Ditengah hingar bingar besarnya gelontoran dana BOS dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dunia pendidikan Kabupaten Lahat yang menyentuh angka Belasan Miliar rupiah, sebuah ruang literasi atau ruang baca perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri 8 Pseksu tidak tersentuh pembangun dan luput dari perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lahat.
Alokasi anggaran yang besar tersebut tidak serta merta menjadikan dunia pendidikan Lahat sejahtera dengan mutu pendidikan yang tinggi. Sebuah ironi yang harusnya tidak terjadi di Kabupaten yang pernah menjadi barometer mutu pendidikan di Sumatera Selatan dengan julukan Kota Pelajar.
Kondisi ruang baca perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri 8 Pseksu ini sangat memprihatinkan dengan adanya ratusan kelelawar yang bergelantungan diatas plafon. Pihak sekolah pun sudah berupaya untuk meminta perbaikan, namun hingga saat ini perbaikan tersebut belum terealisasi.
Sekolah, yang sudah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, namun malah berubah menjadi sarang hewan yang justru bisa menimbulkan penyakit bagi para pelajar.
Kepala SDN 8 Pseksu, Nur Hasansi saat diwawancarai mengaku sudah tiga tahun ruang baca perpustakaan ini tidak bisa difungsikan. Hal tersebut diakibatkan ribuan kelelawar menghuni ruangan tersebut. Bahkan, kotoran kelelawar tersebut berserakan di lantai dan dinding, serta menimbulkan bau busuk yang menyengat.
Kondisi ini membuat siswa kehilangan fasilitas penting untuk belajar dan membaca. Selain tidak nyaman, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu kesehatan.
“Kami pihak sekolah sudah berkali-kali mengajukan usulan perbaikan kepada pihak terkait,” kata Nur Hasansi, Sabtu (8/8/2026).
Pihak sekolah juga sudah berupaya keras mengajukan proposal perbaikan yang sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat dan anggota DPRD. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut nyata.
“Kami sangat berharap pihak terkait segera merespon, agar gedung bisa dibersihkan dan diperbaiki. Anak-anak butuh tempat baca yang layak. Jangan sampai mereka terganggu karena fasilitas yang rusak,” ujarnya.
Keresahan juga dirasakan warga dan orang tua siswa. Mereka mendesak Pemerintah Daerah segera turun tangan agar perpustakaan bisa kembali digunakan.
Dengan kondisi saat ini, kegiatan literasi siswa terpaksa dialihkan ke ruang UKS yang jauh dari kata layak.
Harapannya, perhatian serius segera diberikan agar anak-anak SDN 8 Pseksu bisa kembali belajar di fasilitas yang sehat dan memadai. (tsr)









