Lahat, detikserelo.com – Institute for Essential Service Reform (IESR) bersama Bappeda Kabupaten Lahat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Revitalisasi Lahan Pasca Tambang: Sinergi Pemerintah, Industri, dan Masyarakat dalam Mendorong Transisi Energi dan Transformasi Ekonomi”.
Sumatera Selatan yang dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Tanah Air menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan lahan bekas tambang. Produksi batu bara di provinsi ini mencapai 105,8 juta ton pada 2022. Namun, dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan masif, seperti kerusakan lahan dan pencemaran air, makin mengkhawatirkan.
“Transisi energi tentu berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lahat. DBH dari gas bumi, mineral, dan batu bara cukup besar. Oleh sebab itu, perlu langkah antisipasi agar perubahan ini tidak menggoyahkan perekonomian daerah,” ujar Asisten II Setda Kabupaten Lahat, M. Ichsan, Jumat (23/5/2025).
Data Kementerian ESDM menunjukkan, dari lebih satu juta hektar lahan tambang di Sumsel, baru 5.200 hektar lahan pasca tambang yang berhasil direklamasi. Sisanya sekitar 3.800 hektar belum tersentuh rehabilitasi.
FGD tersebut membahas berbagai solusi, mulai dari pengembangan pertanian, ekowisata, hingga industri hijau sebagai alternatif pemanfaatan lahan bekas tambang. Upaya ini diharapkan bisa mendiversifikasi ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Dalam diskusi yang berlangsung Kamis (22/5/2025) di hotel Santika, dibahas diantaranya menekankan pentingnya harmonisasi regulasi untuk percepatan rehabilitasi dan transisi energi. Lalu mengingatkan perlunya kontribusi sektor pertambangan dalam pemulihan lingkungan dan investasi hijau.
Termasuk berbagai model pemberdayaan masyarakat lokal agar dapat beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang terjadi akibat berkurangnya aktivitas tambang.
IESR berharap, FGD ini menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret yang dapat diimplementasikan, tidak hanya di Lahat, tapi juga di seluruh Sumsel.
“Berdasarkan analisis yang dilaksanakan IESR dan Universitas Sriwijaya, daerah penghasil batu bara perlu mempersiapkan langkah antisipasi ketika terjadi penurunan permintaan batu bara. Revitalisasi lahan pascatambang yang berorientasi pada pengembangan energi terbarukan atau pengembangan komoditas berbasis potensi lokal dapat menjadi langkah strategis yang perlu dukungan beragam stakeholder,” tambah Rizqi Prasetyo, Koordinator Subnasional, Program Akses Energi Berkelanjutan IESR.









